SELAMAT DATANG DI PKS CIANJUR ZONDA DUA # TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA # FOLLOW KAMI DI TWITTER @pks_cianjur

Rabu, 04 Mei 2011

Ecky Awal Mucharam : Pemerintah Jangan Hanya Urusi Upah Minimum Saja


Jakarta (2/5) Pemerintah diharapkan berperan lebih strategis baik untuk mengurangi beban buruh dan pengusaha dan tidak sekedar terjebak pada peran menetapkan harga upah minimum semata. Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan menyediakan barang publik yang memadai. Demikian disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI, Ecky Awal Mucharam di DPR, Senin (2/5).

“Fungsi utama pemerintah dalam hubungan buruh dan pengusaha bukan sekedar menetapkan upah minimum, tapi menyediakan fasilitas publik yang baik dari pajak yang sudah dibayar masyarakat. Kita harus menuntut peran pemerintah ini, kalau hanya untuk menetapkan upah minimum maka tidak perlu ada pemerintah,” jelas Ecky.

Menurut Legislator dari PKS ini, salah satu contoh peran pemerintah bagi buruh adalah dengan menyediakan fasilitas transportasi, pendidikan dan kesehatan yang baik dan terjangkau. Sedangkan bagi pengusaha bisa dengan menyediakan fasilitas infrastruktur yang baik seperti jalan, pelabuhan dan tenaga listrik yang terjamin

Selain itu, lanjut Ecky, yang dibutuhkan oleh pengusaha adalah dukungan agar usaha yang dijalankan berdaya saing tinggi. Hal itu bisa dilakukan dengan penyediaan infrastruktur yang baik dan dihilangkannya pungutan liar yang menimbulkan ketidakpastian biaya. “Infrastruktur itu domain pemerintah, pungutan liar juga dilakukan oknum pemerintah. Begitu juga dengan penyediaan fasilitas publik lain yang dapat meringankan beban hidup buruh adalah domain pemerintah. Jadi lucu kalau pemerintah seolah sudah memperjuangkan kepentingan buruh hanya dengan menaikkan upah minimum”, tutup Ecky.

Selasa, 03 Mei 2011

Luthfi: PKS Punya Sistem Cegah NII


KOMPAS.com — Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq enggan berkomentar terkait pengakuan sejumlah mantan menteri Negara Islam Indonesia (NII) mengenai pendekatan mereka terhadap sejumlah partai politik, termasuk ke dua partai besar, Partai Golkar dan Demokrat. Bagaimana dengan PKS?


"Kita kembali pada apa yang dinyatakan saja, yaitu Golkar dan Demokrat. Saya tak bisa katakan PKS bersih atau tidak. Tetapi kami punya sistem untuk mereduksi hal-hal yang tidak konstruktif dan dorongan melakukan pelanggaran atau tindakan destruktif," ungkap Luthfi kemarin di Hotel Sahid Jaya. Ia tidak merinci sistem yang dimaksud.

Sebelumnya, saat bertemu dengan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, mantan Menteri Peningkatan Produksi Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9) Imam Supriyanto mengatakan NII sudah melakukan pendekatan ke sejumlah partai politik, seperti Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Partai Republikan.

Menurut Luthfi, meski telah masuk ke berbagai elemen, termasuk partai politik, cita-cita mewujudkan NII bisa dihambat. Hanya saja, lanjutnya, itu bergantung pada kerja sama semua elemen masyarakat. Semua elemen harus berkonsolidasi untuk menjaga kesatuan negara. Pemerintah sebagai komandannya tak boleh pula melakukan pembiaran. "Kalau semua elemen bersatu padu menjaga negara ini, tentu bisa. PKS termasuk salah satu elemennya," tegas Luthfi.

Luthfi juga menuntut pemerintah, melalui Kementerian Agama, segera menjelaskan mengenai posisi NII KW 9 yang disebut berbuah dari Pesantren Al-Zaitun pimpinan Panji Gumilang. Pasalnya, sebagai pesantren yang sudah terdaftar menjadi binaan pemerintah, Al-Zaitun memperoleh santunan dana dari pemerintah. Jika institusi yang sudah dibina pemerintah melakukan kekerasan, tentu pemerintah sebagai pembinanya harus bertanggung jawab.

"Kalau yang melakukan kekerasan itu yang sudah dibina, itu tanggung jawab yang membina, kan. Pemerintah di sini bisa kecolongan atau tidak. Pemerintah, kan, sudah memahami petanya, tokoh dan cara kerjanya. Yang belum dipahami adalah menghentikan seluruh langkah destruktif mereka," ujarnya.

Dialog dengan Organisasi Buruh, PKS Terima Uneg-uneg Soal RUU BPJS


Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengundang sejumlah organisasi buruh untuk membahas RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang tengah digodok DPR, Pansus, dan pemerintah. Segala uneg-uneg dari buruh pun akan ditampung PKS.

"Kami sengaja mengundang organisasi tokoh-tokoh buruh karena kami ingin mendengar segala uneg-uneg maupun hujatan dari para teman-teman buruh," kata ketua bidang buruh, petani, dan nelayan DPP PKS, Martri Agoeng, sebelum acara dialog di Hotel Sahid, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (2/5/2011).

Menurut Martri, RUU BPJS sangat penting untuk jaminan keselamatan para buruh. Buruh bukan hanya memperjuangkan kepentingan diri sendiri. Tapi lebih kepada kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

"Silakan saja disampaikan ke kami. Buruh dapat mempelopori jaminan sosial karena ini program yang diamanahkan konstitusi," jelasnya.

Acara dialog dimulai pukul 13.30 WIB. Setengah jam sebelumnya, para peserta dari kalangan buruh sudah tiba di Hotel Sahid. Ada sekitar 30 buruh yang hadir. Namun di daftar hadir tercatat ada 4 organisasi.

Organisasi buruh tersebut yakni Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (Aspek), dan Serikat Pekerja Nusantara (SPN).

Tampak juga yang hadir Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq dan Ketua FPKS Mustafa Kamal.
(detik.com)

Senin, 02 Mei 2011

Aku Masih di Sini untuk Setia


"Saya teringat pada waktu tahun 90-an. Saat itu banyak aktivis dakwah yang meninggalkan Jogja karena ada tawaran kerja di perusahaan-perusahaan besar di luar Jawa akan tetapi sebagian tetap bertahan di Jogja. Ya, sebagian memilih melanjutkan pengembangan dakwah di Jogja, memilih bersabar bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari, mereka tidak berpaling pada dunia," itu kata ustadz kami seusai membahas salah satu ayat dalam surat Al-Kahfi dalam kajian jelang buka puasa Romadhon 1430 H.

Selengkapnya ayat yang dimaksud adalah "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (QS. Al-Kahfi/ 18 : 28)

Ada rasa haru tersendiri jika kita mendengar kabar bahwa sahabat dakwah kita yang sudah begitu akrab hendak pulang kampung ataupun hijrah ke kota lain nan jauh dari kita. Di satu sisi ada harap akan kebaikan yang lebih baik dari ketika dia bersama-sama dengan kita namun di sisi lain ada khawatir bahwa semua akan berubah tidak seperti yang diharapkan semula. Antara bahagia dan sedih: kita bahagia karena sahabat kita memperoleh sebuah kebaikan dari Alloh dan kita sedih karena sahabat dakwah tak akan lagi di sisi.

"Teman-teman saya tu sudah pada ke luar negeri, kuliah di mana, kerja di mana, saya koq dari dulu masih di sini aja ngurusin DPC, hahaha!" kelakar seorang sahabat saya pada suatu ketika. Beliau memang telah beberapa tahun 'menunda' kelulusan kuliahnya sehingga sampai berkata seperti itu. Hanya tawa yang bisa kami luapkan bersama karena tak cukup syar'i menjadikan dakwah sebagai kambing hitam. Kami buang jauh-jauh kalimat "Kalau saja tidak perlu berdakwah dan terlibat amanah-amanah ini mungkin sekarang kita sudah sukses melanglang buana."

Hidup memang penuh dengan pilihan, bukan berarti mereka yang pergi itu berpaling pada dunia dan meninggalkan dakwah. Mereka pergi untuk kembali dengan dakwah yang lebih powerful. Bukan berarti juga yang bertahan di kampung halaman lantas akan terus-menerus berada di jalan dakwah. Inilah pentingnya mengokohkan niat, niat sungguh menentukan makna kehadiran kita di suatu tempat.

Abu Zubaidin Al-Yaami rohimahulloh mengatakan, "Niatkanlah untuk kebaikan, semua perkara yang engkau lakukan sampai-sampai pergimu ke tempat sampah." Dikutip dari Jami'ul 'Ulum wal Hikam, 70/I (SMS dari seorang kawan)

Berhati-hatilah dengan niat hijrah kita, resapi betul hadits Arba'in An-Nawawi urutan pertama. Niat bisa membatasi antara dunia dengan akhirat. Jika kita mengharap akhirat, kita akan mendapatkan akhirat bahkan insya'alloh kita juga akan mendapatkan dunia yang tak pernah kita harapkan. Jika kita mengaharap dunia, alih-alih akhirat, dunia pun mungkin bisa jadi justru tak akan didapat.

Jangan pernah hijrah hanya karena dunia yang kita inginkan, apalagi berpaling dari dakwah karena dunia yang hina. Tidak elok sama sekali jika kita hijrah lalu kehilangan keringat peluh lelahnya berdakwah. Tentunya kita tak mau kehilangan nikmat itu, nikmat iman, nikmat hidayah, nikmat dakwah, berlelah-lelah dalam dakwah itu indah! Sekali lagi, niatkanlah untuk Alloh. Boleh jadi substansinya sama namun nilainya berbeda, yang membedakannya adalah niat.

Teruntuk sahabat-sahabat dakwahku, semoga Alloh senantiasa membersamai kita, meridhoi dan memberikan barokah pada kita semua di manapun kita berada. Saya memilih di sini, tetap di sini, tetap di kampung halaman saya, bukan berarti menafikan nasihat para ulama mengenai pentingnya hijrah dan menjelajah dunia. Kampung halaman saya masih negeri merdeka, masih banyak yang bisa dan perlu dilakukan di sini. Semoga juga bernilai kebaikan. Mungkin keberadaan saya di sini jauh lebih baik dari keberadaan saya di luar sana. Bukankah masyarakat sekitar kita jauh lebih berhak menikmati dakwah kita? Yah, kalaupun hijrah, jangan lupa kisah Fathu Makkah. Seusai hijrah, pulanglah dan jadikan kampung halaman kita futuh.

<---end of this note--->

*Ditulis oleh Akhid Nur Setiawan Abu Kholid bin Jamal As-Sulaimani, kami comot dari blognya disini:
http://pejuangperadaban.blogspot.com/2010/06/aku-masih-di-sini-untuk-setia.html

**gambar: KORSAD Bandung, diambil dari galerikeadilan.net dan diedit sendiri.
---

Sumber: pkspiyungan.blogspot.com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More